Masa Kekusaan Tiga Kerajaan Besar
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah : Sejarah
Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Ismawati,Prof.Dr.Hj.,M.Ag

Disusun oleh :
Nerika Dina
Setyowati (131111126)
FAKULTAS DAKWAH
DAN KOMUNIKASI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.Pendahuluan
Setelah
khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol,kekuatan
politik Islam mengalami kemunduranya secara derastis.Wilayah=kekuasaannya
tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling
memerangi.Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur
akibat bangsa Mongol itu,namun kemalangan berhenti sampai di situ.Timur
Lenk,menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.Keadaan politik umat Islam
secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan
berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu,Usmani di Turki Mughal di India dan
Safawi di Persia.Kerajaan Usmani,disamping yang pertama berdiri juga yang
terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
II.Rumusan Masalah
A.Bagaimana
kerajaan Ustmani?
B.Bagaimana
kerajaan Safawi?
C.Bagaimana
kerajaan Mughol?
III.Pembahasaan
A.Kerajaan Utsmani
a.Sejarah lahirnya
kerajaan Utsmani
Munculnya
kerajaan Utsmani pada abad ke-9 H.Pendiri kerajaan Utsmani adalah bangsa Turki
dari kabilah Oghuz,yang mendiami daerah Mughal dan daerah utara negeri
Cina.Dalam jangka waktu tiga abad,mereka pindah ke Turkistan kemudian persia
dan Irak.Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau sepuluh,ketika mereka
menetap di Asia Tengah,dibawah tekanan serangan-serangan Mughol pada abad ke-13
M,mereka melarika dirike daerah barat dan mencari tempat pengungsian di
tengah-tengah saudara mereka,orang-orang Turki Seljuk di daratan tinggi Asia
Kecil.Disana dibawah pimpinan Ertoghrul,mereka mengabdikan diri kepada Sultan
Allauddin II,Sultan Sejuk yang kebetulan sedang berperang melawan
Bizatium.Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M.Kepemimpinan dilanjutkan oleh
putranya,Usman.Putra Ertoghrul ninilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Utsmani.Usman
memerintah pada tahun 1290 M dan 1326 M.
Pada
tahun 1300 M bangsa Mughol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan Allauddin
terbunuh.Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang[1]
didudukinya.Sejak itulah kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri,penguasa
pertamanya adalah Usman yang disebut juga Usman 1.[2]
Setelah Usman 1 mengumumkan dirinya
sebagai Paradisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M).Ia
menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317
M,kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai kerajaan.Pada massa pemerintahan
Orkhan kerajaan Turki Utsmani ini dapat menaklukan Azmir (Smirna) tahun 1327
M,Thawasyanli (1330 M),Uskandar (1338 M),Ankara (1354 M),dan Gallipoli (1356
M).Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan
Usmani.Ketika Murtad 1,pengganti Orkhan berkuasa (761 H/1395 M – 789 H/1389 M)
ia menaklukan perluasan daerah ke Benua Eropa,ia dapat menaklukan Andrianopel
yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru.Ekspansi kerajaan
Usmani sempat terhenti beberapa lama ketika ekspansi diarahkan ke
Konstantinopel,tentara mughol yang dipimpin Timur Lenk,melakukan serangan ke
Asia kecil.Tentara kecil Usmani mengalaminkekalahan.Bayazid bersama putranya
Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk
bagi Turki Utsmani.Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahin 1405 M,kesultanan
Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain
berselisih.Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Utsmani untuk
melepaskan diri dari kekuasaan Mongol.Turki mencapai puncak kemajuannya pada
masa Muhammad II atau yang disebut Muhammad Al-Fatih.Sultan Muhammad Al-Fatih
dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel tahun 1453 M dengan terbukanya Konstantinopel
lebih mudahlah ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa akan tetapi,ketika Sultan
Salim I naik tahta ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukan
Persia,Syira dan dinasti Mamalik di Mesir.Kemajuan dan perkembangan kerajaan Utsmani
ini diikuti pula oleh berkembangnya kemajuan-kemajuan dalam bidang kehidupan
lainnya.
b.Kemajuan
yang dicapai pada masa kerajaan Utsmani
1.Bidang militer dan pemerintahan
Kekuatan militer kerajaan ini mulai
diorganisasi dengan baik dan teratur pada masa pemerintahan Sultan Murad
I.Selanjutnya Orkhan mengadakan perombakan dalam tubuh organisasi militer dalam
bentuk mutilasi personil pimpinan dan pemberontakan dalam
keanggotaan.Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota.Faktor utama
yang mendorong kemajuan ini ialah tabiat bangsa Turki itu sendiri bersifat
militer,disiplin dan patuh terhadap peraturan.[3]
2.Bidang ilmu pengetahuan dan budaya
Turki
Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang
militeran,sementara dalam ilmu pengetahuan mereka tidak begitu kelihatan
menonjol.Namun mereka berkiprah dalam pembangunan yang indah seperti masjid
Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih.
3.Bidang
keagamaan
Agama
dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam sosial
politik.Masyarakat digolongkan berdasarkan agama dan kerajaan sendiri sangat
terikat dengan syari’at sehingga fatwa ulama menjadikan hukum yang berlaku.
Mundurnya
kerajaan turki Utsmani bermula menurunnya semangat dan hidup bermewah-mewahan
karena terdorong oleh rasa kagum pada diri sendiri dan merasa dirinya sebagai
super power setelah tentaranya mampu memperluas wilayah kekuasaan,mampu
mengamankan perbatasan,menuduhkan musuh dan memperkuat posisi.Gaya hidup
seperti ini yang akan menghabiskan sebagaimana rakayt dan negara.Setelah
wafatnya Sultan Sulaiman al-Qanuni.Kerajaan Turki Utsmani mulai memasuki fase
kemunduran. Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat diganti oleh Salim II.Dimaasa
pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut kerajaan Utsmani dengan
armada laut Kristen .Dalam pertempuran ini Turki Utsmani mengalami
kekalahan.Baru pada masa Sultan Murad III daerah Tunisia dapat direbut kembali.
c.Kemunduran
Kerajaan Ustmani
Fase kemunduran turki Usmani secara perlahan semenjak kematian
Sulaiman I al-Qanunifase kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat
perjuangan prajurit Utsmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam
menghadapi sejumlah peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system pemeritahan
tidak berjalan semestinya.
Faktor-faktor
yang menyokong kemunduran kerajaan Utsmani:[4]
a.
Budaya pungl
Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengansogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut, sehinggamenyebabkan dekadensi moral dan kondisi para pejabat semakin rapuh.
b. Pemberontakan tentara JenissariKemajuan ekspansi kerajan Usmani adalah juga karena peranan yang besar dari tentara Jenissari. Maka dapat dibayangkan kalau tentara Jenissari itu sendiri akhirnya memberontak kepada pemerintah.
c. Kemorosotan ekonomiIni disebabkan perang yang berkepanjangan, menghabiskan uang dan perekonomian Negara merosot, sementara belanja Negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
d. Wilayah kekuasaan yang sangat luasTerlalu luasnya wilayah kekuasaan Usmani sangat sulit untuk dikontrol.Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehinga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Negara.
e. Kelemahan penguasaSepeninggal Sulaimanal al-Qanuni, kerajaan Usmani diperintah oleh Sultan–sultan yang lemah terutama dalam bidang kepemimpinan. Akhirnya pemerintahan menjadi kacau.
Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengansogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut, sehinggamenyebabkan dekadensi moral dan kondisi para pejabat semakin rapuh.
b. Pemberontakan tentara JenissariKemajuan ekspansi kerajan Usmani adalah juga karena peranan yang besar dari tentara Jenissari. Maka dapat dibayangkan kalau tentara Jenissari itu sendiri akhirnya memberontak kepada pemerintah.
c. Kemorosotan ekonomiIni disebabkan perang yang berkepanjangan, menghabiskan uang dan perekonomian Negara merosot, sementara belanja Negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
d. Wilayah kekuasaan yang sangat luasTerlalu luasnya wilayah kekuasaan Usmani sangat sulit untuk dikontrol.Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehinga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun Negara.
e. Kelemahan penguasaSepeninggal Sulaimanal al-Qanuni, kerajaan Usmani diperintah oleh Sultan–sultan yang lemah terutama dalam bidang kepemimpinan. Akhirnya pemerintahan menjadi kacau.
B.Kerajaan Safawi
a.Sejarah
lahirnya kerajaan Safawi
Munculnya
Safawi berdiri saat kerajaan Utsmani di Turki mencapai puncak
kejayaanya.Kerajaan Safawi menganut aliran Syi’ah dan ditetapkan sebagai madzab
negaranya.Fanatisme pengikut Safawi yang menentang golongan selain Syi’ah
mendorong gerakan ini memasuki gerakan politik.Kecenderungan terhadap politik
terwujud pada masa kepemimipinan Junaid.Dimana sang imam menambahkan gerakan
politik selain gerakan keagamaan.Hal ini menimbulkan konflik antara tarekat
safawiyah dengan penguasa Kara Koyunlu.Sang imam berhasil diusir oleh pihak
penguasa dan diasingkan.Sepeninggalan Imam Junaid pimpinan tarekat Safawiyah
digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar.Atas persekutuan dengan
Ak-Koyunlu,Haidar berhasil mengalahkan kekuatan Ak-Koyunlu,persekutuan antara
Safawiyah dengan Al-Koyunlu berakhir oleh sikap Ak- Koyunlu memberikan bantuan
kepada Sirwan ketika terjadi pertempuran antara pasukan Haidar dengan pasukan
Sirwan.Pasukan safawi mengalami kehancuran dan Haidar sendiri terbunuh dalam
pertempuran ini.Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya.Selama lima tahun
beserta pasukannya mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan
pengikutnya di Azerbaijan,Syria dan Anatolia.Pasukan itu dinamai Qizilbash.Pasukan
Qizilbash berhasil mengalahkan Ak-Koyunlu dalam peperangan dan berhasil
menaklukan Tibriz,pusat kekuasaan Ak-Koyunlu.Dialah yang pertama kali memproklamirkan
dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi di kota Tabriz. Dalam waktu sepuluh
tahun ia sudah dapat menguasai seluruh wilayah Persia dan bagian timur B ulan
sabit subur (Fortile Crescent).Kerajaan Safawi mencapai puncak kemajuannya pada
masa pemerintahan Abbas I.Pada masa pemerintahannya dapat menguasai
beberapa daerah yang dikuasi Turki Usmani seperti Tabriz, Sirwan, dan
Baghdad (1602 M). Kemudian tahun 1622 M dapat menguasai kepulauan Hurmuz, dan
mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas, sehingga jalur
perdagangan antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda,
Inggris dan Perancis dapat dikusainya.
b.Kemajuan
yang dicapai pada masa kerajaan Safawi
Kemajuan
Safawi bukan hanya
bidang politik saja tetapi juga antara lain dalam bidang :
1.Bidang
ekonomi
Stabilitas
politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan
perekonomian Safawi.Dengan dikuasainya bundar maka salah satu jalur dagang laut
antara Timur dan Barat sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi.Disamping
perdagangan,kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan sektor pertanian terutama
di daerah Bulan Sabit Subur.
2.Bidang
ilmu pengetahuan
.Pada masanya lahir beberapa ilmuwan antara
lain Bahauddin al-Syaeraji, generalis ilmu pengetahuan,
Sadaruddin al Syaeroji, seorang filosof, dan Muhammad Baqir Ibnu Muhammad
Damad, seorang filosop, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan
obesrvasi mengenai kehidupan lebah.
3.Bidang Pembangunan Fisik dan Seni[5]
Bidang fisik dan seni, para penguasa Safawi
telah berhasil membangun Isfahan, Ibukota kerajaan menjadi kota yang sangat
indah. Dibangun pula mesjid-mesjid, rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah,
jembatan raksasa diatas zende Rud, dan istana Chihil Sutun. Unsur seni terlihat
juga misalnya dalam bentuk kerajinan tangan seperti keramik, karpet, pakaian
dan tenun, mode, tembikar dan lain-lain.Masa kekuasaan
Abbas I ini merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi.
c.Kemunduran
kerajaan Safawi
Kerajaan safawiyah mengalami kemunduran yang berangsur-angsur
dan akhirnya runtuh. Hal itu terjadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah
abbas merupakan penguasa yang lemah, sehingga tidak mampu memprtahankan
kejayaan kerajaan safawiyah. Ada sejumlah faktor penyebab kemunduran kerajaan
ini selain factor ketidak cakapan sejumlah raja setelah Abbas I, di antaranya
adalah pertama; konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan .
C.Kerajaan Mughol
a.Sejarah
lahirnya kerajaan Mughol
Sebelum dinasti Mughal berdirikan di India wilayah ini sudah
pernah di kuasai para penguasa Islam pada masa dinasti Bani Umayah, yakni pada
masa khalifah Al-Walid.penaklukan wilayah ini di lakukan oleh pasukan Umayah
yang di pimpin oleh panglima Muhammad bin Qasim kemudian pasukan ghaznawiyah
di bawah pimpinan sultan Mahmud, berhasil mengembangkan kedudukan Islam di
wilayah ini dengan menaklukan seluruh kekuasaan hindu dan melakukan Islamisasi
sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. setelah gaznawi hancur, muncullah
beberapa dinasti kecil yang menguasai India.
Kerajaan Islam Mughal di India di dirikan oleh Zahiruddin Babur. Ayahnya bernama Umar
Mirza yang merupakan seorang penguasa Farghana.sepeninggal ayahnya Babur
yang berusia 11 tahun mewarisi tahta kekuasaan wilayah Farghana. Ia
bercita-cita menguasai wilayah samarkhan yang merupakan kota terpencil di Asia
Tengah pada saat itu. Pada tahun 1954 Babur berhasil menaklukkan
samarkhan dan pada tahun 1504 M ia berhasil menaklukan Kabul, ibu kota
Afghanistan. Dari Kabul, Babur melanjutkan ekspansi ke India. Ketika itu India
berada di bawah kekuasaan Ibrahim Lodi. Pada saat itu , pemerintah dinasti Lodi
sedang mengalami krisis politik, dan pertahanan mulai melemah, sehingga babur
dengan mudah mengalahkannya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil mengusai wilayah
Punjab. Setelah memenangkan pertempuran di Panipat, Babur dan pasukannya
berhasil memasuki kota Delhi. Setahun kemenangan itu, tepatnya pada 1526
M.Babur berusaha mengembangkan Islam di wilayah tersebut. Sepeninggal Babul,
tahta kerajaan Mughal di teruskan oleh anaknya yang bernama Humayun. Sekalipun
Babur berhasil menegakkan Mughal dari serangan musuh, namun Humayun tetap saja
menghadapi banyak tantangan, di antara pemberontakan dari Bahadur syah,
penguasa Gujarat yang ingin memisahkan diri dari pemerintahan delhi. Akan
tetapi pasukan tersebut dapat di kalahkan pasukan Humayun.pada tahun 1556 M
Humayun meninggal.
Sepeninggal Humayun, tahta kerajaan Mughal di jabat oleh
putranya bernama Akbar(1556-1603 M). ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar
baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan di percayakan
kepada Bairam khan, seorang penganut syiah. Ketika dewasa Akbar
berusaha menyingkirkan Bhairam Khan, karena dianggap terlalu memaksakan paham
syiah. Bhairam mengadakan pemberontakan yang segera dapat di padamkan oleh
Akbar dalam pertempuran di Jullandur tahun 1561 M.
Untuk mengatasi perbedaan agama agar tidak terjadi konflik umat
beragama, Akbar membuat kebijakan nerupa kebijakan politik. Politik sulakhul
(toleransi universal).politik ini berhasil menciptakan kerukunan masyarakat
India yang sangat beragam suku dan keyakinannya.kemajuan yang telah di capai
Akbar dapat di pertahankan oleh penerusnya yang bernamaJehangir(1605-1627 M) dan syah Jihan (1628-1658M), dan Aurangzeb(1659-1707
M). ketiganya merupakan raja-raja besar mughal yang di dukung oleh kekuatan
militer yang besar.
b.Kemajuan yang dicapai pada masa kerajaan
Mughol
Stabilitas
politik yang dicapai oleh Akbar mendukung pencapaian kemajuan dibidang perekonomian,ilmu
pengetahuan dan peradaban.Kemajuan bidang ekonomi ditandai dengan kemajuan
sektor pertanian dan perindustrian.Pada masa ini dikembangkan penanganan
pertanian secara terstruktur.Ilmu pengetahuan tidak banyak mengalami kemajuan
dibandingkan dengan kemajuan dimasa-masa sebelumnya yang lebih menonjol adalah
kemajuan dalam bidang seni syair dan arsiktektur.Karya seni yang masi dapat
dinikmati sekarang merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughol
adalah arsiktektur yang indah dan mengagumkan.[6]
c.Kemunduran kerajaan Mughol
Terdapat beberapa faktor penyebab kemunduran dan kehancuran
dinasti Mughol di India. Di antaranya adalah konflik internal dikalangan
istana, serangan bangsa Hindu, serangan bangsa Persia dan masuknya unsur asing
seperti bangsa Inggris yang menguasai sektor ekonomi dengan mendirikan IEC.
Meskipun mughol merupakan kerajaan Islam namun mayoritas warganya tetap
beragama Hindu.Bahkan sejarah pembentukan kerajaan ini bermula dari gerakan
penaklukan terhadap sejumlah penguasa Hindu.Mereka melancarkan pemberontakan di
bawah pimpinan Hemu dalam peperangan panipat II (1556M). Pada waktu mughal
mengalami krisis perebutan kekuasaan di kalangan istana yakni antara tahun
1779-1748 M, orang-orang Hindu kembali melancarkan sejumlah pemberontakan.
Kelompok sikh di sebelah utara delhi, dan merebut kota sirhind. Golongan
Maratha di bawah pimpinan Baji Rao berhasil merebut sebagian wilayah Gujarat di
tahun 1723 M.
Ketika keadaan Mughol dalam kondisi seperti itu, inggris
memperkuat posisinya. Dari urusan perdagangan Inggris berusaha memperlebar
pengaruhnya dalam lapangan politik dengan di bentuknya EIC. Inggris memperkut
militernya di daerah perdagangan yang di kuasainya, terutama di Bengal. Militer
inggris berhasil menekan Syah Alam, sehingga melepaskan wilayah Qudh, Bengal,
dan Orisa Kepada Inggris. Akbar II (1806-1837 M), pengganti Syah Alam,
memberikan konsesi kepada EIC untuk mengembangkan perdangan di India
sebagaimana di inginkan oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak
perusahaan Inggris harus menjamin penghidupan raja dan keluarga istana.
Baharudin Syah (1837-1858 M) pengganti akbar II, menentang isi perjanjian yang
telah di sepakati oleh ayahnya, hal ini menimbul konflik antara Baharudin syah
dengan pihak Inggris.
Ketika
itu, pihak EIC sedang mengalami kerugian akibat tidak efiseinnya administrasi
perusahaan,sedang pihak EIC harus tetap menjamin penghidupan raja dan keluarga
istana. Inilah latar belakang EIC memungut pajak tinggi dari rakyat. Rakyat
yang merasa tertekan berusaha melancarkan pemberontakan dengan menjadikan
Baharudin Syah sebagai pemimpin mereka melawan Inggris dalam sebuah pertempuran
yang terjadi pada bulan mei 1857 M pihak Inggris berhasil menghancurkan kekuatan
rakyat India. Mereka di hukum secara kejam sebelum di usir dari Delhi.
Baharuddin Syah di usir dari istana pada tahun 1885 M,dengan demikian
berakhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughol.
IV.Kesimpulan
-Munculnya
kerajaan Utsmani pada abad ke-9 H.Pendiri kerajaan Utsmani adalah bangsa Turki
dari kabilah Oghuz,yang mendiami daerah Mughal dan daerah utara negeri
Cina.Dalam jangka waktu tiga abad,mereka pindah ke Turkistan kemudian persia
dan Irak.Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau sepuluh,ketika mereka
menetap di Asia Tengah,dibawah tekanan serangan-serangan Mughol pada abad ke-13
M,mereka melarika dirike daerah barat dan mencari tempat pengungsian di
tengah-tengah saudara mereka,orang-orang Turki Seljuk di daratan tinggi Asia
Kecil.
-Kemajuan
yang dicapai pada masa kerajaan Utsmani:Bidang militer dan pemerintahan , bidang
ilmu pengetahuan dan budaya,bidang keagamaan.
-Fase kemunduran turki Usmani secara perlahan semenjak
kematian Sulaiman I al-Qanunifase kemunduran ini ditandai dengan melemahnya
semangat perjuangan prajurit Utsmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam
menghadapi sejumlah peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system pemeritahan
tidak berjalan semestinya.
-Munculnya
Safawi berdiri saat kerajaan Utsmani di Turki mencapai puncak
kejayaanya.Kerajaan Safawi menganut aliran Syi’ah dan ditetapkan sebagai madzab
negaranya.Fanatisme pengikut Safawi yang menentang golongan selain Syi’ah
mendorong gerakan ini memasuki gerakan politik.
-Kemajuan
kerajaan Safawi
bukan hanya bidang politik saja tetapi juga antara lain dalam bidang :bidang
ekonomi,bidang ilmu pengetahuan,bidang Pembangunan Fisik dan Seni.
-Kerajaan
safawiyah mengalami kemunduran yang berangsur-angsur dan akhirnya runtuh. Hal
itu terjadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah abbas merupakan penguasa
yang lemah, sehingga tidak mampu memprtahankan kejayaan kerajaan
safawiyah. Ada sejumlah faktor penyebab kemunduran kerajaan ini selain
factor ketidak cakapan sejumlah raja setelah Abbas I, di antaranya adalah pertama;
konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan.
.Sebelum
dinasti Mughal berdirikan di India wilayah ini sudah pernah di kuasai para
penguasa Islam pada masa dinasti Bani Umayah, yakni pada masa khalifah
Al-Walid.penaklukan wilayah ini di lakukan oleh pasukan Umayah yang di pimpin
oleh panglima Muhammad bin Qasim kemudian pasukan ghaznawiyah
di bawah pimpinan sultan Mahmud, berhasil mengembangkan kedudukan Islam di
wilayah ini dengan menaklukan seluruh kekuasaan hindu dan melakukan Islamisasi
sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. setelah gaznawi hancur, muncullah
beberapa dinasti kecil yang menguasai India.
-Kemajuan yang
dicapai pada masa kerajaan Mughol
Stabilitas politik
yang dicapai oleh Akbar mendukung pencapaian kemajuan dibidang
perekonomian,ilmu pengetahuan dan peradaban.Kemajuan bidang ekonomi ditandai
dengan kemajuan sektor pertanian dan perindustrian.Pada masa ini dikembangkan
penanganan pertanian secara terstruktur.
- Kemunduran kerajaan Mughol
Terdapat
beberapa faktor penyebab kemunduran dan kehancuran dinasti Mughol di India. Di antaranya
adalah konflik internal dikalangan istana, serangan bangsa Hindu, serangan bangsa
Persia dan masuknya unsur asing seperti bangsa Inggris yang menguasai sektor
ekonomi dengan mendirikan IEC.
IV.Penutup
Demikianlah makalah yang dapat saya sampaikan,sekiranya isi
dalam makalah ini dapat memberikan pemahaman dalam khazanah intelektual kita
dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim,Badri,Sejarah Peradaban Islam,PT.Grafindo
Persada,Jakarta.
Ma’sud,Abdurrahman,Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Rizki
Putra,Jawa Tengah.
Nasution,Harun ,Islam:Konsepsi dan Sejarahnya,Rosdakarya,Bandung,1993.
Ahmad Syalabi,Sejarah
dan Kebudayaan Islam:Imperium Turki Usmani,jakarta,1998.
[1] Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,PT.Raja Grafindo
Persada,Jakarta,2001,hlm.129
Ibid.,hlm.130
Ibid.,hlm.130
[2] Ahmad Syalabi,Sejarah dan
Kebudayaan Islam:Imperium Turki Usmani,(jakarta:Kalam Mulia,1998)hlm.2.
[3]Ahmad Syalabi,op.cit,hlm.14
[4] Badri Yatim,op.cit.,hlm.163
[5]Syed Mahmudunnasir,op.cit.,hlm.163
[6] Harun nasution,op.cit.,hlm.82;Syed
Mahmudnnasir,Islam:Konsepsi dan
Sejarahnya,Rosdakarya,Bandung,1993,hlm.322